Mendaki Gunung Marapi
Pada waktu hari aku mempersiapkan barang-barang untuk mendaki gunung kemudian saya menuju ke tempat teman-teman yang lain menuju kesana. Di sana akhirnya kita mempersiapkan barang-barang seperti perbekalan, Tenda, Nesting (alat memasak), kompor kecil dll. Setelah kami merasa bahwa perlengkapan sudah siap kami pun beranjak dari kota Lubuk Basung ke Kota padang panjang menggunakan mobil dan menempuh 3 jam perjalanan.
Di perjalanan kami saling bercanda gurau agar tidak merasa bosan di jalan. Pada saat itu pukul setengah tiga kami melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan kami singgah untuk makan untuk memberikan tenaga buat mendaki ketika nanti sampai di base camp Gunung Marapi Kami pun kembali berjalan saya dan teman-teman sempat tertidur di perjalanan kecuali yang menyetir mobil. Ketika tertidur saya pun terbangun karena mendengar suara teman-teman saya sudah bangun dan ketika saya membuka mata langit sudah terang dan tampak terlihat dari jauh gunung Marapi dan Singgalang yang letaknya bersebelahan. Saya pun sangat takjub dengan pemandangan pagi itu karena Gunung yang tinggi dan udara yang begitu cukup dingin karena berada di dataran tinggi.
Akhirnya kami pun sampai di Base camp gunung Marapi yang letaknya berada di Kota Padang Panjang Sumbar. Pemandangan yang begitu bagus sayang jika kenangan itu tidak di abadikan. Keadaan pun sangat cerah tetapi tetap dingin sekali suhu di daerah tersebut.
Waktu terus berjalan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Kami pun melakukan persiapan sebelum mendaki. Semua perlengkapan pun telah siap dan kami melakukan laporan di base camp sebelum naik. Setelah itu kami melakukan streaching agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan pada badan dan melakukan doa bersama. kami pun telah siap dan melakukan perjalanan.
Baru 20 menit melakukan pendakian saya pun merasa kelelahan karena trek yang menanjak dan membawa beban yang cukup berat. Di situ saya merasa menyesal kenapa saya ikut dalam perjalanan itu. Akan tetapi saya merasa tertantang karena indahnya alam yang saya lihat meskipun belum terlalu jauh saya berjalan. Terus melakukan langkah menuju ke puncak kami pun tiba di Pos 1 Gunung Marapi dan kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melakukan perjalanan. Tampak di peta bahwa puncak masih sangat jauh sekali. Ketika saya melihat peta itu jarak dari pos 1 menuju ke pos 2 tidak terlalu jauh dan saya pun kembali bersemangat karena di pos 2 kami berencana untuk melakukan istirahat kembali.
Perjalanan pun kembali kami lanjutkan. berjalan cukup jauh pendakian gunung dan saya bersama salah satu temen yang pertama kalinya mendaki gunung itu membuat kami lambat dalam berjalan. Sekitar 1 jam lebih saya berjalan sayapun merasa lelah dan putus asa karena medan yang cukup berat dan belum sampai di pos 2. Selama di perjalanan saya berpikir tau begini mendingan saya gak usah ikut saja baik di kost istirahat bermain game tanpa kelehan sedikitpun.
Di sela-sela istirahat kami mereka pun semua asyik bercanda kecuali saya yang hanya terdiam dan nafas ter engah-engah. Ada yang bertanya kepada saya “Kau kenapa wak? Kok diam terus dari tadi. Karena saya merasa lelah saya pun menjawab “Capek kali aku wak, gak sanggup kayaknya aku ini” dia pun tersenyum dan ia kembali berkata kepada saya “Ah… sudah sampai sini kau nyerah begitu saja? Udah nikmati aja wak semua pasti terbayar jika kita sudah sampai di puncak” teman-teman yang lain pun ikut menyemangati saya. Saya pun merasa kembali bersemangat dan termotivasi atas kata-kata dia. Dan akhirnya kami pun kembali berjalan temen saya di belakang saya untuk menjaga saya agar tidak terjadi apa-apa. Saya pun merasa tidak enak sama mereka karena saya terlalu manja dan cepat menyerah maka seketika rasa capek itu hilang meskipun hanya sebentar saja mengingat makin terjalnya jalanan dan dinginnya udara meskipun matahari terik sekali.
Terus berjalan akhirnya kami pun sampai di pos 2. Mengingat di tengah perjalanan antara pos 1 dan pos 2 tadi sudah beristirahat kami pun terus melakukan perjalanan dan tidak istirahat di pos 2. Ketika kami keluar dari hutan kami pun sampai di daerah batu batuan Di situ saya sangat kaget dan kembali merasa tak sanggup berjalan lagi karena Jalan bebatuan dan makin terjalnya medan jalan yang akan di lalui. Sudah 5 jam kami berjalan dan baru ketika di daerah inilah saya merasa sangat lelah sekali. Temen yang melihat saya sudah sangat lelah pun menawarkan diri untuk membakan tas saya. “Sini tas kau ku bawa wak. Sudah goyang gitu badan kau kulihat” saya pun merasa tidak enak kepada dia karena menambah beban dia padahal dia sendiri pun membawa tas yang cukup besar. Saya pun tidak mau mengambil resiko maka saya terima tawaran dari dia. Ketika melakukan perjalanan tanpa membawa tas memang terasa beda. Badan terasa ringan dan cukup kuat untuk menanjak. Tapi itu tidak bertahan cukup lama karena makin terjalnya jalan yang kami lalui. Saya pun kembali terduduk diam menengok ke atas melihat masih begitu jauhnya perjalanan kami padahal jika di hitung saja jarak dari base camp menuju puncak hanya 7 km saja akan tetapi jalan yang menanjak membuat jarak seperti puluhan kilometer berjalan.
Terus berjalan kami pun akhirnya sampai di ketinggian. Hari pun semakin sore tetapi kami belum mendapatkan tempat buat camping. Menurut peta dan pemberitahuan dari orang yang menjaga base camp di bawah tadi bahwa tempat camping yang terdekat dari puncak yang jaraknya kurang lebih satu jam lagi jika ingin ke puncak. Kami pun cukup panik mengingat kami Cuma membawa satu senter maka memutuskan untuk berangkat duluan untuk sampai ke Pundqk. Haripun semakin gelap dan kamipun belum sampai di camp. Kembali berjalan saya kembali di hadapkan dengan medan yang sangat terjal dan jika tidak berhati-hati bisa saja kami terjatuh. Ketika saya berhenti sejenak akhirnya kami mendapatkan kabar baik telah mendapatkan tempat buat mendirikan tenda. Mendengar hal itu kami yang tertinggal pun kembali berjalan dengan semangatnya di keadaan yang gelap. Dan alhamdulillah kami semua akhirnya sampai di Puncak lalu melanjutkan untuk membangun tenda dan mencari kayu untuk di bakar.
paginya saya terbangun dan keluar tenda. Betapa indahnya pemandangan dari atas ketika melihat kami berada di atas awan dan melihat langsung kota di bawah dan Gunung Singgalang yang berada di sebelah gunung Marapi meskipun sebenarnya itu belum di puncak Gunung Sumbing. Maka momen itu pun kami pakai untuk berfoto sebelum kabut menutupi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar